Senin, 09 November 2009
Tugas tambahan meringkas dari Pak Wakhinuddin
tambahan tugas meringkas pengantar pendidikan
(catatan: karena memang hasil scan kurang baik, maka perlu diedit ulang. edit masing2 se yoooo.....)
:PAB VI
LANDASAN PSIKOLOGI
Psikologi atau ilmu jiwa adalah ilmu yang mempelajari jiwa
manusia. Jiwa itu sendiri adalah roh dalam keadaan mengendalikan
jasmani, yang dapat dipengaruhi oleh alam sekitar. Karena itu jiwa
atau psikis dapat dikatakan inti dan kendali kehidupan manusia, yang
berada dan rnelekat dalam manusia itu sendiri.
Jiwa manusia berkembang sejajar dengan pertumbuhan jasmani.
Jiwa balita baru berkembang sedikit sekali sejajar dengan tubuhnya
yang juga masih berkemampuan sederhana sekali. Makin besar anak
itu makin berkembang pula jiwanya, dengan melalui tahap-tahap
tertentu akhimya anak itu mencapai kedewasaan baik dari segi
kejiwaan maupun dari segi jasmani.
Dalam perkembangan jiwa dan jasmani inilah seyogianya anak-
anak belajar, sebab pada rnasa in} mereka peka untuk belajar, punya
'Yaktu banyak untuk belajar, bel urn berumah tangga, bekerja, dan
bertanggung jawab terhadap kehidupan keluarga. Masa belajar ini ber-
tingkat-tingkat sejalan dengan fase-fase perkembangan rnereka. Oleh
karena itu, Iayanan-layanan pendidikan terhadap rnereka harus pula
dibuat bertingkat-tingkat agar pelajaran itu dapat dipahami oleh anak-
anak.
Bab ini secara berturut-turut akan membahas (1) psikologi
perkembangan, (2) psikologi belajar, (3) psikologi sosial, (4) kesiapan
belajar dan aspek-aspek individu, dan (5) dampak konsep pendidikan.
Psikologi Perkembangan
Ada tiga teori atau pendekatan ten tang perkembangan.
Pendekatan-pendekatan yang dimaksud adalah:(Nana Syaodih,1988)
Pendekatan pentahapan. Perkembangan individu berj'al~'~,elalui
tahapan-tahapan tertentu. Pada setiap tahap memiliki ciri-ciri
khusus yang berbeda dengan ciri-ciri pad a tahap-tahap yang lain.
. Pendekatan diferensiai. Pendekatan ini memandang individu-
individu itu memiliki kesamaan-kesamaan dan perbedaan
perbedaan. Atas dasar ini lalu orang-orang membuat kelompok-
kelompok. Anak-anak yang memiliki kesamaan dijadikan satu .
kelornpok. Maka terjadilah kelompok berdasarkan jenis kelamin,
kemampuan intelek, bakat, ras, agama, status sosial ekonomi,
dan sebagainya.
Pendekatan ipsatif. Pendekatan ini berusaha melihat karakteristik .
setiap individu, dapat saja disebut sebagai pendekatan indi-'
vidual. Melihat perkembangan seseorang secara individual."
Dari ketiga pendekatan inkyang paling banyak dilaksanakan adalah
pendekatan pentahapan.
Pendekatan pentahapan ada dua rnacam yaitu yang bersifat
menyeluruh dan yang bersifat khusus. Yang menyeluruh akan men-
cakup segala aspek perkembangan sebagai faktor yang diperhitungkan
dalam menyusun tahap-tahap perkernbangan. Sedangkan yang bersifat
khusus hanya mempertimbang faktor tertentu saja sebagai dasar
menyusun tahap-tahap perkembangan anak, misalnya pentahapan
Piaget, Koglberg, dan Erikson.
Menurut Crijns (tt.) periode atau tahap perkembangan manusia
secara umum adalah sebagai berikut:
Umur 0 - 2 tahun disebut masa bayi. Pada masa ini,si bayi
sebagian besar rnemanfaatkan hidupnya untuk tidur, memandang,
mendengarkan, kemudian belajar merangkak, dan berbicara.
Umur 2 - 4 tahun disebut masa kanak-kanak. Pada masa ini
anak sudah mulai bisa berjalan menyebut beberapa nama,
pengamatan yang mula-mula global,kini sudan mulai bisa
melihat struktur, permainan-permainan mereka bersifat fantasi,
masih suka menghayal sebab belum sadar akan lingkungannya.
Mereka mengalami masa egosentris, sebab menurut anak ini
semua orang dan benda-bend a lain disekelilingnya adalah untuk
kepentingan dirinya. Masa krisis kemudian rnuncul ketika ia
telah sadar bahwa bukan semua itu untuk dirinya, tetapi ia tetap
tidak . mengerti apa furigsi benda-benda dan orang-orang itu.
Membuat anak ini bingung dan ragu-ragu.
. Urnur 5- 8 tahun disebut rnasa dongeng. Anak-anak pada rnasa
, ini mulai sadar akan dirinya sebagai seseorang yang mempunyai
kedudukan tersendiri seperti halnya dengan orang-orang lain.
Mereka mulai bisa bermain bersama dan melaktikan tindakan-
tindakan yang konstruktif. Kesadaran akan lingkungan yang
sesungguhnya mulai muncul. Namun objektivitas ini masih
dipenganihi oleh subjektivitasnya sendiri sehingga ia at au
rnereka suka pada dongeng-dongeng.•• . .'
Urnur 9 - 13 tahun disebut masa Robinson Crusoe (nama se-
orang petualang). Dalam rnasa ini mulai berkembang pernikiran
kritis, nafsu persaingan, minat-minat, dan bakat. Mereka' ingin
mengetahui segala sesuatu secara mendalam, suka bertanya, dan
rnenyelidiki. Hidup mereka berkelompo.~-kelompok, anak laki-
laki terpisah dengan anak-anak perempuan. Mereka memainkan
peranan-peranan nyata seperti yang mereka lihat di masyarakat,
Mereka suka menggoda, mengejek, dan sebagainya. Maka
mereka dijuluki masa kejam. "
Umur 13 tahun disebut masa pubertas pendahuluan.: Misalnya
anak-anak ini mulai tertuju ke dalam . dirinya sendiri, mereka
mulai belajar bersolek, suka menyendiri, rnelamun, dan segan .
olah raga. Mereka gelisah, cepat tersinggung, suka marah-marah,
keras kepala, acuh tak acuh, dan senang bermusuhan. Terhadap
jenis kelamin lain. mereka ingin sama-sama tahu, tetapi masih
canggung.
6. Umur 14, - 18 tahun disebut masa puber. Mereka kini mulai
sadar akan pribadinya sebagai seorang yang bertanggung jawab.
Mereka sadar akan hak-haksegala kehidupan dalam
lingkungannya. Mereka mulai tahu bahwa setiap orang punya '
arah dan jalan hidup sendiri-sendiri. 'Lalu rnereka mulai
mengoreksidiri sendiri, seperti mengapa dia ada danapa
hubungannya dengan dunia ini, tetapi sering diakhiri 'dengan
kegelisahan, kesedihan, dan kadang-kadang putus asa. Mereka
takut dicampuri oleo orangdewasa. ia hanya berhubungan
dengan ternan-ternan seperasaan. Mereka menemui nilai-nilai
hidup itu, tetapi mereka juga cepat beralih ke nilai-nilai hidup
yang lain. Ini merupakan periode pembentukan cita,
7. Umur 19 - 21 tahun disebut masa adolesen. .Anak-anak pada
masa ini mulai menemui keseimbangan, mereka sudah punya
rencana hidup tertentu dengan nilai-nilai yang sudah dipastikan-
nya.Namun mereka belum berpengalaman, maka timbullah
sikap radikal, ingin menolak, mencela, dan merombak hal-hal
yang tidak disetujuinya dalam politik, agama, sosial, kesenian,
dan sebagainya. , ,
8. Umur 21 tahun keatas disebut masa dewasa. Pada masa ini
remaja mulai insaf bahwa pekerjaan manusia tidak mudah dan
, selalu ada cacatnya. Mereka mulai berhati-hati.
. Periode perkembangan tersebut di atas adalah merupakan
periode secara umun Artinya ada saja perkembangan anak atau
remaja yang menyimpang dari perkembangan umum itu. Sementara
itu hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak perempuan rata-
rata berkembang tiga tahun lebih cepat daripada anak laki-laki. Hal
inilah yang membuat seringkali dalam kenyataan sehari-harianak-
anakperempuan kelihatan lebih dewasa daripada anak laki-laki:yang
sebaya,
Konsep perkembangan ini pula yang membuat para pendidik
masa larnpau memisahkan pendidikan anak lakl-laki dengan anak
perempuan agar sejalan dengan masa tertentu terjadinya pertentangan
antara kelompok perempuandengan laki-Iaki. Pemisahan ini biasanya
dilakukan di ,tingkat SLTP. Tetapi hasil penelitian kemudian
menyatakan bahwa pendidikan terpisah ini dapat merugikan anak-
anak sebab mereka berkernbang di luar kewajaran hidup manusia,
yang menyebabkan pendidikan terpisah ini dihentikan.
Kini mari kita lihat psikologi perkembangan menu rut Rouseau.
Dia membagi masa perkembangan anak at as em pat tahap yaitu:
1. Masa bayi dari 0 - 2 tahun yang sebagian besar merupakan I
perkembangan fisiko V
2. Masa anak dari 2 - 12 tahun yang dinyatakan perkembangannya
baru seperti hidup manusia primitif.
3. Masa pubertas dari 12 - 15 tahun, ditandai dengan
perkembangan pikiran dan kemauan untuk berpetualang.
4. Masa adolesen dari 15 - 25 tahun, pertumbuhan seksual
menonjol, sosial, kata hati, dan moral. Rernaja ini sudah mulai
, belajar berbudaya.
Sementara itu Stanley Hall penganut teori Evolusi dan teori
, Rekapitulasi membagi masa perkembangan anak sebagai berikut:
(Nana Syaodih, 1988)
1. Masa kanak-kanak ialah umur 0 - 4 tahun sebagai masa
kehidupan binatang.
2. Masa anak: ialah umur 4- 8 tahun merupakan masa sebagai
manusia pemburu.'
3. Masa muda ialah umur 8 - 12 tahun sebagai manusia belum
berbudaya.
4. Masa adolesen ialah umur 12 - dewasa merupakan manusia
berbudaya.
Havinghurst menyusun fase-fase perkembangan sebagai berikut:
(Mulyani, 1988)
1. Tugas perkembangan masa kanak-kanak:
" ,.,'. . . .
Belajar berkata, makan.rnakanan padatberjalan, mengendalikan
. ' gerakan bad an, mempelajari peran jenis kelaminnya sendiri,
. stabilitas fisiologi, membentuk konsep sederhana tentang sosial
dan fisik, belajar menghubungkan diri secara emosional dengan
, , .
orang-orang Iain, serta belajar membedakan yangbenar dengan
yang salah.
2. Tugas perkembangan masa anak:
Belajarketerampilanfisik untuk keperluanbermain, rnembentuk
sikap diri sendiri, belajar bergaul secara rukun, mernpelajari
peran jenis kelamin sendiri, belajar keterampilan membaea,
menulis, dan berhitung, mengembangkan konsep-konsep yang
dibutuhkan dalam kehidupan, membentuk kata hati, moral, dan
nilai, membuat kebebasan diri, dan rnengembangkan sikap
terhadap kelompok serta lembaga-lembaga sosial.
3. Tugas perkembangan masa remaja:
, Mernbuat hubungan-hubungan baru yang lebih matang dengan
ternan sebaya dari kedua jenis kelamin, memperoleh peran sosial
yang coeok dengan .jenis kelaminnya, menggunakan badan
secara efektif, mendapatkan kebebasan diri dari ketergantungan
pada orang lain, memilih dan menyiapkan jabatan, mendapatkan
kebebasan ekonomi, mengadakan persiapan perkawinan dan
kehidupan berkeluarga, mengembangkan keterampilan dan
konsep-konsep yang diperlukan sebagai warga negara yang baik,
mengembangkan perilaku bertanggung jawab, dan mernperoleh ,
seperangkat nilai serta etika sebagai pedoman berperilaku,
4. Tugas perkembangattmasa dewasa awal:
Memilih pasangan hidup, belajar hidup rukun bersuami istri,
memulai. kehidupan punya anak, belajar membimbing dan
merawat anak, mengendalikan rumah tangga, melaksanakan
suatu jabatan atau pekerjaan, belajar bertanggung jawab sebagai ,
warga negara, dan berupaya mendapatkan kelompok sosial yang
tepat serta menarik,
5. Tugas perkembangan masa setengah baya:
Bertanggung jawab sosial dan menjadi warga negara yang baik,
, membangun serta mempertahankan standarekonomi, membina
anak remaja agar menjadi orang dewasa bertanggung jawab serta
bahagia, mengisi waktu senggang. dengan .keglaten-kegiatan
tertentu, membina hubungan .suami ispisebagai, pribadi,
menerima serta menyesuaikandiri dengan perubahan fisik diri
sendiri, dan menyesuaikan diri dengan pertambahan umur.
6. Tugas perkembangan orang tua:
Menyesuaikan diri dengan semakin menurunnya kekuatan fisik
dan kesehatan, menyesuaikan: diri .' terhadap .menurunnya
pendapatan ataukarena pensiun, menyesuaikan diri sebagai duda
atau janda, menjalin hubungan dengan klub lanjut usia,
,memenuhi kewajiban sosial sebagai warga negara yang baik,
dan membangun kehidupan fisik yang memuaskan.,
Tugas-tugas yang harus dijalankan atau diselesaikan oleh setiap
individu sepanjang hidupnya seperti tertera di atas, memberi
kemudahan kepada para pendidik pada setiap jenjang dan tingkat
pendidikan untuk:
1. Menentukan arah pendidikan.
2. Menentukan metode at au model belajar anak-anak agar mereka
mampu menyelesaikan tugas perkembangannya.
3. Menyiapkan materi pelajaran yang tepat.
4. Menyiapkan pengalaman belajar yang coeok dengan tugas
perkembangan itu.
Tugas-tugas perkernbangan itu tampaknya disiapkan untuk
pendidikan seumur hidup. Terbukti dari adanya tugas perkembangan
untuk masa setengah baya atau orang dewasa dan untuk masa tua.
Dua maeam tugas terakhir ini amat berguna bagi pendidikan luar
sekolah, baik di rumah terhadap suami-istri dan orang yang sudah
tua mapun di lembaga-lembaga pendrdikan yang ada di masyarakat,
seperti kursus-kursus, perkumpulan sosial, agama, persatuan orang
lanjut usia dan sebagainya.
Kini mari kita teruskan membahas psikologi perkembangan ini
yang mernakaipendekatan pentahapan tetapl bersifat khusus. Kita
mulai dari konsep Jean Piaget yang menekankan tingkat-tingkat
perkembangan khusus yaitu kognisi. Menurut Piaget ada empat
tingkat perkembangan kognisi, (Mulyani 198~, Nana Syaodih, 1988,
dan Callahan, 1983).
Periode sensorimotor pada umur 0 -' 2 tahun
Kemampuan anak terbatas pada gerak-gerak refleks. Reilksi
intelektual hampir seluruhnya karena rangsangan langsung dari
alat-alat lndra. Punya kebiasaan memukul-rnukul dan bermain-
main dengan permainannya. Mulai dapat menyebutkan nama-
nama objek tertentu.
2. Periode praoperasional pada umur 2- 7 tahun
Perkembangan bahasa anak ini sangat pesat. Peranan intuisi
dalam memutuskan sesuatu masih besar, menyimpulkan hanya
be rd as ark an sebagian kecil yang diketanui, ' Analisis rasional
belum berjalan,
3. Periode operasi konkret pada umur 7 - 11 tahun
Mereka sudah bisa berpikir Iogis, sisternatis, dan mernecahkan
masalah yang bersifat konkret. Mereka sudah mampu rnengerja-
kan penambahan, pengurangan, perkalian, daripembagian, '
4. Periode operasi formal pada umur 11 - 15 tahun
Anak-anak ini sudah dapat berpikir logis terhadap masalah balk
yang konkret maupun yang abstrak. Dapat membentuk ide-ide
dan masa depannya secara realistis.
Teori perkembangan Piaget ini bermanfaat bagi pendidikan dalam
mengorganisasi materi pelajaran dan proses belajar terutama yang
berkaitan dengan upaya mengembangkan kognisi anak-anak, Konsep
ini ada pertaliannya dengan perkembangan kognisi menurut Bruner
sebagai berikut, (Toeti Soekamto, 1994).
1. Tahap enaktlf, anak melakukanaktivitas-aktivitas dalam upaya
memahami lingkungan.
2. Tahap ikonik, anak memahami dunia melalui gambaran-
gambaran dan visualisasi .verbal.
3. Tahap simbolik, anak telah memiliki gagasan abstrak yang
banyak dipengaruhi oIeh bahasa dan logika,
Selanjutnya Bruner mengatakan bahwa perkembangan kognisi
seseorang bisa dimajukan dengan jaJan mengatur bahan peJajaran,
antara Jain dengan kurikulum spiral.
Lawrence Kohlberg mengembangkan teori moral kognisi atas
dasar teori Piaget. Menurut dia ada tiga tingkat perkembangan moral
kognisi, yang masing-masing tingkat ada dua tahap sebagai berikut:
(McNeil, 1977 dan Nana Syaodih, 1988).
I. Tingkat Prekonvensional
a. Tahap orientasi kepatuhan dan hukuman, seperti kebaikan,
keburukan, ditentukan oleh orang itu dihukum atau tidak.
.' b. Tahap orientasi egois yang naif. seperti tindakan yang betul
ialah yang memuaskan kebutuhan seseorang.
,2. Tingkat Konvensional
a. Tahap orientasi anak baik, seperti perilaku yang baik ialah
bila disenangi orang lain.
b. Tahap orientasi mempertahankan peraturan dan norma
. sosial, seperti perilaku yang baik ialah yang sesuai dengan
harapan keluarga, kelompok, atau bangsa.
3. Tingkat Post-Konvensional
a. Tahap orientasi kontrak sosial yang legal,seperti tiru'akan
. yang betul ialah yang mengikuti standar masyarakatdan
mengkonstruksi aturan barn.
b. Tahap orientasi prinsip etika universal. seperti tindakan
yang betul ialah melatih kesadaran mengikuti keadilan dan
kebenaran universal.
Inilah tingkat-tingkat . perkembangan moral 'anak atas dasar
pemahamannya tentang moral itu sendiri. Dalam mengembangkan
moral anak-anak, .pendidik dapat .mengikuti petunjuk-petunjuk
terse but di atas.
Dalam aspek afeksi; Erikson mencoba menyusun perkern- '.
bangannya. Perkembangan afeksi terdiri atas delapan tahap sebagai
berikut, (Mulyani, 1988).
1.' Bersahabat vs menolak pada umur 0 - 1 tahun.
Bayi yang diasuh dengan kasih sayang dankebutuhan-kebutuhan
terpenuhi akan merasa : bersahabat dengan orang-orang .di .
sekitamya. Sebaliknya bila dia disia-siakan dan kebutuhannya
tak terpenuhi, makaia akan menentang lingkungan. Perasaan-
perasaan seperti ini akan .dibawa ke tingkat-tingkat perkernbang-
an berikutnya.
2. Otonomi vs malu dan ragu-ragu pada umur 1 - 3 tahun.
Anak merasa memiliki otonomi dan kebanggaan, sebab ia sudah
bisa berjalan, memanjat, membuka, mendorong, dan sebagainya.
Ia merasa dapat mengendalikan otot-ototnya, mengendalikan diri
dan lingkungai Tetapi bila orang tua terlalu memanjakan,
timbul malu-rnalu dan keragu-raguan anak itu tentang
kemampuannya. Dan hal ini pun akan berpengaruh pada tingkat-
tingkat perkembangan berikutnya.
3, Inisiatif vs perasaan bersalah pada umur 3 - 5 tahun:
Anak-anak pada masa ini banyak berinisiatif'manakala diberi
kesempatan oleh orang tuanya, sebab mereka sudah puny a
kemampuan lebih besar, seperti lari, naik sepeda roda tiga, me-
mukul, memotong, darr sebagainya. Begitu pula dalam berbahasa
dan berfantasi mereka berinisiatif sendiri. Orang tua perlu
memberi kesempatan, kebebasan, dan menjawab segala per-
tanyaannya. Kalau mereka tidak diperlakukan seperti itu mereka
akan merasa guilted (bersalah).
4. Perasaan produktif vs rendab diri pada umur 6 - 11 tahun.
Anak-anak ini cinta pada orang tua yang be rl awanan jenis dan
adarasa persaingan dengan yang sarna jenis kelarnin. Mereka
sudah bisa be rpiki r deduktif, bermain dengan pe ratu ran-
peraturannya, dan terdorong untuk mengerjakan sesuatu sampai
berwujud nyata. Jika mereka dihargai dan diberi hadiah membuat
peran produktif berkembang. Tetapi anak-anak yang bodoh
cenderung punya perasaan rendah diri.
5. ldentitas diri vs kebingungan pada umur 12 - 18 tahun.
Para remaja ini sudah mulai dapat mengidentifikasi dirinya
berdasarkan pengalaman-pengalaman yang lampau. Ia sudah
mengerti sebagai remaja, sebagai ternan sekolah, sebagai anggota
pramuka, dan sebagainya, Perasaan dan keinginan-keinginan
barn mulai tumbuh. Mereka juga sudah bisa berpikir jernih
tentang hal-hal di sekelilingnya.
6. lntim vs mengisolasi diri pada umur 19 - 25 tahun.
Orang-orang ini sudah bisa intim dalarn suami istri dan marnpu
berbagi rasa pada orang lain. Keberhasilan ini tidak hanya
bergantung pada perlakuan orang tua. melainkan juga pada
temannya yang akan diajak bergaul. Dan bila tidak berhasil, hi
akan mengisolasi diri.
t
7. Generasi vs kesenangan pribadi pada umur 25 - 45 tahun.
Orangtua atau orang seumur ini sudah mulai memikirkan
generasi muda, masyarakat, dan dunia tempat generasi ini
tinggal. .Mereka memikirkan pendidikan, kesejahteraan, dan
pekerjaan generasi ini. Bila tidak, orang tua ini hanya mengejar
kesenangan pribadi saja.
8. lntegritasvs putus asa pada umur 45 tahun ke atas.
Integritas muneul kalau orang tua ini dapat membawa diri seeara
memuaskan dalam pergaulan anak-cucunya. Bila tidak, maka
orang ini akan berputus asa.
Seperti halnya dengan perkembangan kognisi, perkembangan .afeksi. .
ini pun memberi kemudahan kepada para pendidik. dalam
mengembangkan afeksi anak-anak, juga dalam mempenganihi afeksi
orang dewasa danorang yang sudah tua, dengan cara mengikuti
tahap-tahap tersebut. Sehubungan dengan hal ini perlu dikemukakan
simpulan Baller dan Charles sebagai berikut, (Mulyani, 1988).
1. Anak yang berasal dari keluarga yang memberi layanan baik,
akan bersikap ramah, luwes, bersahabat, dan mudah bergaul.
2. Anak yang dilahirkan pada keluarga yang menolak kelahiran
itu, akan cenderung menimbulkan masalah, agresif, menentang
orang tua, dan sulit diajakberbicara.
3. Anak yang diberikan pada keluarga yang acuh tak acuh pada
anak, cenderung bersikap pasif dan kurang populer di luar
rumah.
Konsep perkembangan yang dibahas terakhir ini berasal dari
Gagne, yang dapat disebut sebagai perkembangan kemampuan
belajar, Perkembangan itu adalah sebagaiberikut. (McNeil, 1977}.•.
1. Multideskriminasi, 'yaitu belajar membecakan stimuli yang
mirip, misalnya huruf b dengan d.
2. Belajar konsep, yaitu belajar membuat respon sederhana, seperti
huruf hidup, huruf mati, dan sebagainya.
3. Belajar. prinsip, yaitu mempelajari prinsip-prinsip atau aturan-
aturan konsep.
4. Pemecahan masalah, yaitu belajar mengkorhbinasikan dua atau
lebih prinsip untuk memperoleh sesuatu yang baru.
Pembahasan tentang psikologi perkembangan ini yang men-
cakup perkembangan umum, kognisi, moral, afeksi, dan kemampuan
belajar atau dapat disingkat menjadi teori perkembangan umum, .
kognisi, dan afeksi, memberi petunjuk yang. sangat bernarga bagi
para pendidik dalarn mengoperasikan pcndidikannya. Karena itu
pendidikharus paham akan tahap-tahap perkembangan ini agarIa .
dapat membantu perkembangan anak-anak secara optimal pada segala
jenjang dan tingkat sekolah.
Psikologi Belaj ar
Belajar adalah perubahan perilaku yang relatif permanen
sebagai hasil pengalaman (bukan hasil perkembangan, pengaruh obat,
atau kecelakaan) dan bisa melaksanakannya pada pengetahuan lain
serta mampu mengkomunikasikannya kepada orang lain.
Ada sejumlah prinsip belajar menurut Gagne (1979) sebagai
berikut:
. I. Kontiguitas, memberikan situasi atau materi yang mirip dengan
harapan pendidik tentang respon anak yang diharapkan, beberapa
kali secara berturut-turut.
2~ .. Pengulangan, situasi dan respon anak diulang-ulang atau
dipraktekkan agar belajar lebih sempurna dan lebih lama diingat.
3. Penguatan, respon yang benar misalnya diberi hadiah untuk
mempertahankan dan menguatkan respon itu.
4. Motivasi positif dan percaya diri dalam belajar.
5. Tersedia materi pelajaran yang lengkap untuk memancing
aktivitas anak-anak.
6. Ada upaya membangkitkan keterampilan intelektual untuk
belajar, seperti apersepsi dalam mengajar.
7. Ada strategi yang tepat untuk rnengaktifkan anak-anak dalam
bel ajar.
8. Aspek-aspek jiwa anak harus dapat dipengaruhi oleh faktor-
faktor dalam pengajaran.
Tiga butir pertama disebut Gagrie sebagai faktor-faktor ekstern yang-
rnempengaruhi hasil belajar, sedangkan sisanya adalah sebagai faktor-
faktor intern. Faktor-faktor ekstern lebih banyak dapat ditangani oleh
pendidik, sementara itu faktor-faktor intern dikernbangkan sendiri
oleh anak-anak di bawah araban dan strategi mengajar atau pendidik.
Pembahasan selanjutnya adalah mengenai ,teori belajar itu
sendiri. Ada sejumlah teori belajar 'yang bila dibuat secara sistematik
adalah sebagai berikut: (Callahan, 1983, Nana Syaodih, 1988, dan
Toeti Soekarnto, 1994).
1 Teori belajar klasik:,
a. Disiplin Mental Theistik.
b. Disiplin Mental Humanistik.
c. Naturalis atau aktualisasi diri.
d. Apersepsi.
2. Teori belajar modem:
a. R-S Bond atai Asosiasi.
b. Pengkondisian (Kondisioning)
c. Pengkondisian (Kondisioning)
d. Penguatan.
e. Kognisi.
f. Belajar Bermakna.
g. Insight atau Gestalt.
h. Lapangan.
i. Tanda (sign).
j. Fenomenologi
Teori belajar modem di atas dapat pula dibagi dua kelompok yaitu:'
1. Behavioris yang mencakup nomor a sarnpai dengan d.
2. Kognisi yang mencakup nomor e sarnpai dengan j.
Kini mari kita uraikan satu persatu dalam bagian berikut:
Teori belajar Disiplin Mental Theistik berasal dari Psikologi
Daya atau Psikologi Fakulti. Menurut teori ini individu ata~ anak
memiliki sejumlah daya mental seperti pikiran, ingatan, pernatian,
kemarnpuan, keputusan, observasi, tang gapan , dan sebagainya.
Masing-masing daya ini dapat ditingkatkan kemarnpuannya melalui
;. 1
latihan-Iatihan. Jadi teori lni memandang mental seperti urat daging
" yang bisa ditingkatkan kekuatannya melalui latihan-latihan, Dengan
demikian belajar adalah melatih daya-daya.
Teori belajar Disiplin Mental Humanistik bersumber dari aliran
Psikologi Humanistik Klasik ciptaan Plato' dan Aristoteles. Teori ini
sarna dengan Disiplin Mental Theistik di atas, yaitu manakala daya-
daya itu dilatih, mereka akan semakin kuat, dan manakala sudah
kuat, maka individu bersangkutan dengan mudah dapat memecahkan
berbagai masalah yang dihadapi. Bedanya adalah pada proses latihan.
Kalau teori di atas melatih bagian demi bagian daya atau potensi
anak, makaDisiplin Mental Humanistik menekankan keseluruhan
sebagai potensi individu seeara utuh. Sebab itu pendidikan lebih
menekankan pendidikan umum. Mereka berpendapat kalau seseorang
menguasai sesuatu yang bersifat umurn, maka dengan mudah bisa
ditransfer atau diterapkan kepada hal-hal yang bersifat khusus.
Teori belajar N aturalis atau Aktualisasi Diri berpangkal dari
Psikologi Naturalis Romantik yang dipimpin oleh Rousseau. Sarna
halnya dengan kedua teori di atas, teori naturalisinipun memandang
setiap anak memiliki sejumlah potensi atau kemampuan. Potensi-
, ,potensi ini juga harus dikembangkan, tetapi bukan oleh pendidik
dengan eara melatih, melainkan oleh anak itu sendiri. Sebab itu teori
ini disebut juga teori Aktualisasi Diri Agar anak-anak dapat
, 'berkembang sendiri dengan baik, pendidik perlu menciptakan situasi
'yang permisif atau rileks. Hanya dalam situasi seperti inilah anak-
anak akan dapat berkembang seeara bebas seperti halnya dengan
makhluk-makhluk yang lain. Makna naturalis berada pada
perkembangan secara alami di alam bebas.
Teori belajar klasik yang terakhir adalah Apersepsi. Teori ini
berasal dari Psikologi Struktur Ciptaan Herbart. Sebab itu ia dinamai
pula Herbatisme. Psikologi ini memandang bahwa jiwa manusia
merupakan suatu struktur. Struktur ini bisa berubah dan bertarnbah
manakala orang bersangkutan belajar. Pertambahan ini didapat
melalui asosiasi antara struktur yang sudah ada dengan hal-hal yang
dipelajari. Berarti belajar adalah memperbanyak asosiasi-asosiasi
sehingga membentuk struktur barn dalam jiwa anak, Atau disebut
juga belajar .adalah membentuk masa apersepsi. Semakin banyak
belajar semakin banyak terbentuk struktur barn atau semakin banyak
masa apersepsinya. Langkah-langkah belajar menurut Herbart adalah
sebagai berikut:
1. Pendidik harus mengadakan persiapan dengan cermat.
2. Pendidikan dilaksanakan sedemikian rupa sehingga anak-anak
merasa jelas rnernahami pelajaran itu, yang rnernudahkan
asosiasi-asosiasi baru terbentuk.
3. Asosiasi-asosiasi barn terbentuk antara materi yangdipelajari
dengan struktur jiwa atau apersepsi anak yang telah ada .. •
4. MengadakangeneraliSasi, pada saat ini terbentuklah suatu
struktur barn dalarn jiwa anak.
5. Mengaplikasikan pengetahuan yang baru didapat agar struktur
terbentuk sernakin kuat.
Teori psikologi belajar klasik, walaupun urnurnya sudah tua,
untuk hal-hal tertentu rnasih bisa dipakai. Teori Disiplin Mental
rnisalnya masih bermanfaat dalarn melatih anak-anak rnenguasai per-
kalian di bawah 100. Dengan dilatih berkali-kali mereka akan hafal
perkalian itu di luar kepala. Kemarnpuan seperti ini sangat dibutuhkan
sampai sekarang. Sebab selain kegunaan praktis dalam kehidupan
sehari-hari dalam mengerjakan matematika pun anak-anak tidak perlu
lagi setiap kali termenung berpikir atau mencari bantuan kalkulator,
Begitu pula halnya dengan latiham-latihan mengerjakan soal
adalah mernakai teori belajar Disiplin Mental. Latihan ini banyak
dilakukan di sekolah baik untuk penguasaan bahan itusendiri rriaupun
untuk menghadapi ujian negara. Latihan-latihan ini menggunakan se-
jurnlah soal yang sudah tentu ada kesamaan satu dengan yang lain
untuk setiap jenisnya. Berarti ada pengulangan yang dilakukan
berkali-kali untuk soal-soal yang mirip.
Teori klasik lain yang juga masih sering digunakan adalah teori
Psikologi Belajar Naturalis atau Aktualisasi Diri. Pendapat kelompok
ini yang mengatakan belajar itu sebaiknya dilakukan secara wajar
di alam bebas, bisa diterapkan pada pendidikan luar sekolah, terutama
untuk belajar seumur hidup. Mereka yang senang belajar, biasanya
tidakmembutuhkan orang lain sebagai pembimbing khusus. Mereka
mencari sendiri bahan-bahan pelajaran yang mereka inginkan,
mempelajarinya sendiri, dan mencoba menerapkannya. Jadi mereka
akan belajar di mana saja dan dengan cara apa saja di lingkungan
kediaman mereka, Mereka mungkin belajar di perpustakaan, di rumah
ternan-ternan, di rumah sendiri, bahkan mungkin juga sambil pesiar.
Cara mereka belajar pun bermacam-macam sesuai dengan kebiasaan
dan kemauannya masing-masing. Ada yang hanya membaca saja,
mencatat.vmeringkas, atau ada juga dengan membuat gambar atau
skerna. Pada hakikatnya mereka mengaktualisasi diri sendiri, sejalan
dengan teori belajar Naturalis.
Sekarang mari kita teruskan pernbahasan ini dengan teori-teori
belajar modem. Pertama-tama adalah teori belajar R-S Bond atau
Asosiasi. Teori inilah yang pertama kali dicetuskan oleh kelompok
Behavioris, dengan tokohnya Thorndike. Behaviorisme menginginkan
agar studi mereka benar-benar dapat diamati, seperti halnya dengan
ilmu-ilmu yang lain. Karena itu rnereka tidak mau mengenal atau
rnemperhitungkan hal-hal di luar pengarnatan dalam mempelajari dan
rnengernbangkan psikologi belajar. Karena itu menurut mereka,
belajarakan terjadi kalau ada kontak hubungan antara orang
bersangkutan dengan benda-benda yang ada di luar. lni yang rnereka
. namakan S-RBond,. yaitu S adalah stimulus dari luar diri seseorang
dan R'adalah: respon orang bersangkutan, sedangkan Bond adalah
. hubungan atau asosiasi. Sebab itu rnereka rnenyebutkan Psikologinya
. Koneksionisme atau Asosiasisrne.
Bila seorang anak melihat ternannya akan berangkat ke sekolah
sebagai suatu stimulus, maka anak ini berhenti dan rnenunggu ternan.
itu sebagai respon dan mereka berangkat bersama-sama ke sekolah.
Anak ini sudah belajar bahwa berangkat ke sekolah sebaiknya
bersama-sama dengan ternan. Begitu pula sampai di sekolah anak-
anak disuruh mernbaca oleh gurunya sebagai stimulus dan anak-anak
berarti anak-anak sudah belajar serta mendapatkan pengetahuan.
Dengan demikian belajar menurut mereka adalah upaya membentuk
hubungan stimulus respon sebanyak-banyaknya.
Berkaitan dengan teori belajar Asosiasi ini, Thorndike men-
eetuskan tiga hukum belajar sebagai berikut:
1. Hukum kesiapan, artinya semakin siap anak itu semakin mudah
terbentuk hubungan antara stimulus dengan respon. Kesiapan di
sini terjadi pada sistem urat syaraf seseorang. Karena itu anak-
anak . perlu .dlsiapkan terlebih dahulu sebelum menerima
pelajaran baru.
2. Hukum latihan atau pengulangan. Dikatakan bahwa hubungan
antara stimulus dengan respon akan terbentuk bila hubungan itu
sering diulang atau dilatih berkali-kali.
3. Hukum dampak, maksudnyaialah hubungan antara stimulus dan.
respon.akan teIjadi bila hubungan itu rnemberikan dampak yang
menyenangkan.
Ketiga hukum ini bisa teIjadi pada setiap asosiasi atau dapat juga
hanya satu atau dua darinya.
Teori belajar Pengkondisian Instrumental atau R-S Bond ber-
awal dari teori belajar Pengkondisian Klasik, ketika Pavlov ber-
eksperimen dengan anjingnya. Setiap kali kepada anjing yang lapar
diperlihatkan daging sambil membunyikan bel, air liur anjing itu
keluar. Lama-lama tanpa daging bila anjing itu mendengar bel air
liurnya tetap keluar. Keluarnya air liur ini adalah. merupakan respon
yang terkondisi, yaitu yang dikondisi oleh daging tadi.
Tokoh teori belajar pengkondisian instrumental ini adalah
Watson dan Thorndike. Belajar menurut mereka adalah masalah
melekatkan atau menguatkan respon yang benar dan menyisihkan
respon yang salah akibat pemberian hadiah dan tidak dihiraukannya "
konsekuensi respon yang' salah. Respon-respon yang benar 'lalu .
diulang-ulang sehingga melekat betul pada anak-anak. Di atas meja
belajar disiapkan perm en yang enak, anak-anak tidakboleh
mengambil permen itu sebelum mereka selesai belajar. Setelah
berlangsung beberapa kali, maka kemudian hari tanpa permen pun
anak-anak akan belajar dengan rajin.
Teori belajar ini dapat diterapkan pada anak-anak yang belum
sadar akan pentingnya belajar kepada anak-anak yang malas, dan
kepada mereka y~g belum paham akan tugas-tugas di rumah maupun
di masyarakat. Dengan menjanjikan hadiah keeil saja pada umumnya
mereka mau mengerjakan tugasnya. Nanti kalau sudah menjadi
kebiasaan tentu hadiah-hadiah seperti itu tidak diperlukan lagi. Atau
bisa juga dilakukan dengan menyepelekan atau tidak memperhatikan
tindakan-tindakan mereka yang negatif yang membuat mereka tidak
tertarik lagi untuk berbuat negatif. Cara yang kedua ini lebih keeil
hasilnya dibandingkan dengan eara yang pertama.
Teori belajar Pengkondisian Ope ran diperkenalkan oleh Skin-
ner. Kalau teori Pengkondisian Instrumental memberi kondisi sebelum
respon, maka teori belajar Pengkondisian Operan memberikan kondisi
sesudah terjadinya respon. Cara seperti ini diyakini membuat respon-
respon seperti itu akan lebih sering terjadi at au dilakukan oleh orang
bersangkutan.
Sebagaimana biasanya, seseorang yang menerima stimulus
akan melakukan respon. Respon ini dapat sesuai dengan harapan
orang yang memberi stimulus, dapat pula tidak sesuai. Misalnya
seorang anak disuruh mengerjakan pekerjaan rumah pada pukul 19.00
sebagaimana biasanya, bisa terjadi dia bersedia atau menolak karena
ada tayangan yang menarik di televisi. Bila ia bersedia berarti
responnya sesuaidenganharapan pemberi stimulus tetapi bila tidak
bersedia btrarti responnya tidak sesuai. Untuk respon-respon yang
sesuai segera diberi hadiah. Bila sering dilakukan cara-cara seperti
ini akan membuat anak bersangkutan selalu belajar pada pukul-Iv
walaupun hadiah dihentikan.
Teori belajar Penguatan atau Reinforcement lahir dari Psikologi
Reinforcement yang dipimpin oleh HUll. Pada prinsipnya teori ini
tidak berbeda dengan teoribelajar Pengkondisian Operan, mungkin
namanya berbeda karena tokohnya berbeda Teori ini memberi
penguatan pada respon-respon yang benar atau yang sesuai dengan
harapan. Bila siswa mendapat skor tinggi, ia diberi pujian. Bila
seorang seniman berprestasi, mll"',- :: Jiberi hadiah. Sejumlah ibu
yang taat ber Kfsjuga diix-.; tanda penghargaan. Pujian, hadiah, dan
penghargaan tersebut adalah merupakan penguatan-penguatan agar
individu-individu bersangkutan tetap konsisten dengan tindakannya
yang sudah baik itu, bila perlu bisa ditingkatkan lagi.. " '
Oalam kaitannya dengan teori Penguatan ini, dikenal 'adadua
maeam penguatan, yaitu:
1. Penguatan positif, ialah setiap stimulus yang dapat memantapkan
responpada Pengkondisian Intrumental dan setiap hadiah yang
dapat memantapkan respon pada Pengkondisian Operan.
2. Penguatan negatif, ialah setiap stimulus yang perlu dihilangkan
untuk memantapkan respon yang terjadi. Misalnya tugas-tugas
yang terlalu berat perlu dihilangkan agar siswa tetap rajin
bel ajar.
Ada perbedaan pengertian antara penguatan positif dan negatif dengan
hukuman. Penguatan adalah pemberian stimulus positif atau peng~,
hilangan stimulus negatif .. sementara itu hukuman adalah pemberian
stimulus negatif atau penghilangan stimulus positif.
, '
Sampai di sini teori-teori belajar yang bersumber dari Be-
haviorlsme sudah selesai dibicarakan. Sesungguhnya keempat teorl
belajar Behaviorisme itu, makin ke belakang merupakan pengembang-
an dari pendahulunya. Dan bila dikaji lebih lanjut, pada hakikatnya
teorl belajar Behaviorisme ini hanya ada dua yaitu teori Pengkon-
disian instrumental dan teorl Pengkondisian Operan. Teorl-tepri ini
amat bennanfaat untuk mengembangkan tingkah laku-tingkah laku
yang nyata seperti hidup teratur, rajin bel ajar, meneuci tangan
sebelum makan, mau kerja bakti, suka olah raga, dan sebagainya.
Tetapi untuk belajar memahamt sesuatu terutama hal-hal yang rumit,
rnemecahkan masalah, mengkreasikan sesuatu, dan sejenisnya cukup
sulit melaksanakannya.
Kini marl kita beralih kepada teorl-teorl kognitivisme. Pertama
adalah tentang teori Kognisi ciptaan Bruner (Connell, 1974) yang
menekankan pada eara individu mengorganisasikan apa yang telah
ia alami dan pelajari. Sistem pengorganisasian ini merupakan kunci
untuk memahami tingkah laku seseorang. Sistem pengorganisasian
ini juga merupakan alat untuk berpikir dan memeeahkan masalah.
Lebih lanjut dikatakan bahwa pendidikan harus mengembang-
kan keterampilan be rpikir. Untuk maksud ini dibutuhkan suatu
pelajaran yang terorganisasi dan saling berhubungan satu dengan yang
lain. Para siswa diberl kesempatan untuk menemukan sendiri konsep-
konsep dan prinsip-prinsip. Mereka juga diberi kesempatan untuk
mengembangkan pola dan teknik meneliti. Oengan eara ini
pengetahuar. yang didapat lebih bermakna bagi dirinya, lebih lama
diingat, dan lebih mudah dipakai memeeahkan masalah.
Kedua adalah teori belajar Bermakna yang diciptakan oleh
Ausubel. Seperti halnya dengan Bruner, Ausubel juga menekankan
.cara seseorang mengorganisasi pengetahuan yang didapatnya.
Organisasi atau struktur kognisi inidipandang sebagai faktor utama
dalam belajar dan mengingat bahan-bahan baru yang bermakna.
Struktur kognisi itu terorganisasi secara bertingkat Agar belajar
menjadi bermakna, maka materi baru haruslah bertalian dan sebagai
bagian dari konsep-konsep yang telah ada dalam struktur kognisi.
Proses menghubungkan informasi barudengan elemen-elemen dalam
struktur kognisi disebut subsumption atau menyatukan menjadi
bagian dari struktur itu. Oengan cara ini belajar menjadi bermakna
Ausubel juga menekankan pentingnya konsep dan prlnsip umum
untuk belajar dan mengingat.
Dalam pendidikan ditekankan eeramah yang terorganisasi
dengan baik, yang penghadiran konsep-konsepnya diatur seeara
bertingkat. Di tingkat-tingkat akhir itulah konsep atau infonnasi baru
ditempatkan. Dengan eara ini ada keterkaitan konsep lama dengan
konsep barn sehingga belajar menjadi bermakna. Di samping me-
masang konsep-konsep yang terkait, juga dapat dipasangkan konsep-
konsep yang berlawanan, sehingga siswa bisa menangkap makna
suatu konsep melalui lawan dari konsep itu. Teori belajar bermakna
ini sangat penting artinya bagi pelajaran yang berlangsung secara
verbal atau lisan.
Kini marl kita teruskan dengan teorl belajar Insight atau Gestalt
(Callahan, 1983). Teorl Gestalt memandang anak-anak telah memiliki
sikap dan keterampilan yang kompleks dari hasil belajarnya. Anak-.
anak memandang situasi belajar sebagai satu kesatuan atau gestalt'.
dan merespon terhadap keseluruhan itu merupakan suatu yangpenting .
untuk memahaminya. Oalam hal ini belajar jugamengguhakan
insight atau pemahaman, suatu yang lepas dari kebingungan sehingga
menemukan keteraturan dalam materl yang barn itu. Pertama kali
menghadapi sesuatu yang barn, mungkin belum mendapatkan insight.
Tetapi setelah hal barn itu dipandang sebagai suatu kesatuan atau
gestalt, maka segera hal yang baru itu menjadi jelas.
Dalam pendidikan, teori belajar Gestalt ini sering dicontohkan
pada gambar muka manusia. Bila gambar muka manusia ini dilihat
satu persatu, tidak akan mudah melihatnya sebagai muka manusia.
Tetapi bila dilihat sebagai keseluruhan, maka dengan cepat kita akan
mengatakan gambar muka manusia. Dalam pelajaran menulis,
membaca, berbicara dengan bahasa asing, dan menggambar, pendidik
pada umumnya mernakai teorl belajar gestalt ini, sebab hasil
belajamya lebih cepat t~pak. . .
Teori Lapangan atau Field dalam belajar dipelopori oleh Lewin ..
(Callahan, 1983). Lewin mencoba menjelaskan perilaku manusia
melalui eara mereka merespon terhadap faktor-faktor lingkungan,
terutama lingkungan sosial. Teori ini diberi nama teori Lapangan atau
Ruang Kehidupan. Ruang kehidupan sese orang adalah dunia psikologi
tempat orang itu hidup. Ruang kehidupan ini berubah dari waktu
ke waktu. Dengan menstruktur kembali kekuatan-kekuatan fektornya,
seseorang dapat mengisi sesuatu kebutuhan dan menilai kembali
situasi itu. Dengan eara ini ia lebih efektif menyelesaikan masalah
atau mencapai tujuan. Belajar adalah usaha untuk menilai kembali
dan mendapatkan kejelasan dari ruang kehidupan, sehingga ruang
kehidupan berkembang atau berubah.
Callahan (1983) melanjutkan teori lapangan dengan teori Tanda
atau Sign dan teori Fenomenologi sebagai berikut. Teori belajar Tanda
dipelopori . oleh .. Tolman, . yang mengatakan bahwa perilaku itu
. .
. mengarah kepada tujuan. Belajar adalah suatu harapan bahwa
stimulus akan diikuti oleh situasi yang jelas. Harapan ini lebih
mungkin dalam bentuk peta kognisi daripada berbentuk respon yang
khas. lni berarti belajar lebih konsem dengan pengertian daripada
dengan Pengkondisian. Istilah Sign di sini dapat diartikan munculnya
tanda-tanda kejelasan atau pengertian.
Teori belajar Fenomenologi diciptakan oleh Snygg dan Combs,
yang memandang individu itu beradadalam keadaan dinamis yang
stabil dan memiliki persepsi bersifat fenomenologi. Menurut mereka
perilaku itu ditentukan oleh psikologi atau kenyataan fenomenologi
bukan kenyataan objektif yang dapat diamati oleh panea indra.
Lingkungan itu adalah suatu persepsi individu. Berarti kenyataan
lingkungan buat seseorang tidak mesti sarna dengan orang lain, sebab
setiap orang punya persepsi sendiri-sendiri terhadap sesuatu. Belajar
adalah merupakan proses wajar dan normal sebagai dimensi
pertumbuhan dan perkembangan. Belajar adalah hasil perubahan
persepsi kita terhadapdiri kita sendiri dan lingkungan.
Setelah membahas seinua teoribelajar, maka kini dapat kita
sarikan sebagai berikut:
1. Teori belajar klasik masih tetap dapat dimanfaatkan, antara lain
untuk menghafal perkalian dan melatih soal-soal (Disiplin
Mental). Teori Naturalis bisadipakai dalam pendidikan -luar
sekolah terutama pendidikan seumur hidup.
2. Teori belajar behaviorisme bermanfaat dalam mengembangkan
perilaku-perilaku nyata, seperti rajin, mendapat skor tinggi, tidak
berkelahi, dan sebagainya.
3. Teori-teori belajar kognisi berguna dalam mempelajari materi~•
materi yang rumit yang membutuhkan pem aham an , untuk
memecahkan masalah, dan untuk mengembangkan ide.
Psikologi Sosial
Psikologi sosial adalah psikologi yang mempelajari psikologi
sese orang di masyarakat, yang mengombinasikan ciri-ciri psisologi
dengan ilmu sosial untuk mempelajari pengaruh masyarakat terhadap
individu dan antarindividu (Hollander, 1981). Dengan demikian
psikologi ini akan mencoba melihat keterkaitan masyarakat dengan
kondisi psikologi kehidupan individu.
Kecenderungan man~sia untuk bersahabat sudah dimulai sejak
pennulaan dia hidup yaitu sejak masih bayi. Hampir semua bayi
merespon secara positif terhadap satu atau Iebih orang dewasa. Lebih
lanjut hampir semua orang tua kasih terhadap anak-anaknya, mereka
selalu ingin dekat dengan anak-anaknya, Karena itu anak-anak juga
semakin.dekat dengan orang tuanya. lnilah yang membuat terjadinya
persahabatan atau keakraban. !
Berkembangnya kasih sayang ini disebabkan oleh dua hal
yaitu, (Freedman, 1981)
1. Karena pembawaan atau genetika, Pembawaan kasih sayang ini
sebagai perangkat yang penting untuk mempertahankan hidup
sang bayi.
2. Karena belajar. Mereka belajar semua aturan berperilaku. Anak-
anak cinta pada orang tua, sebab orang tua memberi makan,
memberi kehangatan. Sebaliknya orang tua . cinta pada anak
sebab anak memberi kebahagiaan orang tua.
Sejumlah konsep psikologi sosial yang lain akan dibahas pad a
bagian-bagian berikut, yang sebagian besar diambil dari tulisan .
Freedman (1981). Kini akan dibahas konsep pembentukan kesan. Ada
kecenderungan umum bahwa orang-orang membentuk kesan tentang
orang lain dalam pertemuan sekejap saja. Melihatorang atau gam-
barannya, seseorang cenderung membuat keputusan tentang sejumlah
karakteristik orang bersangkutan. Dia menafsirkan inteligensi, umur,
latar belakang,ras, agama, tingkat pendidikan, kejujuran, kehangatan,
dan sebagainya. Dia juga kadang-kadang menyatakan perasaan
senang atau tidak senang pada orang lain.
Pembentukan kesan pertama terhadap orang lain memiliki tiga
kunci utarna, yaitu:
1. Kepribadian orang itu. Mungkin kita telah pemah mendengar
tentang orang itu sebelumnya, atau cerita-cerita yang mirip
dengan orang itu, terutama tentang kepribadiannya.
2. Perilaku orang itu. Ketika melihat perilaku orang itu setelah
berhadapan, maka kita hubungkan dengan cerita-cerita yang
pemah didengar,
.. 3. Latar belakang situasi. Kedua data di atas kemudiandikaitkan
. dengan situasi pada waktu itu. Maka dari kombinasi ketiga data
ini akan keIuarIah kesan pertama tentang orang itu.
Perlu diketahui bahwa kesan pertama ini belum tentu benar. Bila
kesan pertama ini salah, setelah melihat penampilannya pada beberapa
hari berikutnya, dapat membuat pemberi kesan tadi kecewa, terutama
kalau penarnpilannya lebih jelek daripada kesan pertama.
Dalam dunia pendidikan, hal ini perlu diperhatikan. Para
pendidik harus mampu membangkitkan kesan pertama yang positif
dan tetap positif untuk hari-hari berikutnya. Sikap dan perilaku
pendidik seperti ini sangat penting artinya bagi kemauan dan
semangat belajar anak-anak.
Kini mari kita teruskan dengan pembahasan persepsi diri
sendiri (Freedman, 1981). Orang-orang dalam mencapai persepsi
tentang dirinya sendiri adalah sarna caranya dalam menemukanarau
melihat persepsi orang lain. Hal ini lahir dari asumsi umum yang
mengatakaR bahwa emosi kita, sikap, sifat, dan kemampuan kita
seringkali tidak jelas dan ambigu bagi diri kita sendiri. Dengan
demikian kita hanis menyimpulkan bahwa persepsi diri sendiri
oersumber dari perilaku kita yang oven dan persepsi kita terhadap
lingkungan.
Persepsi diri sendiri berkaitan dengan sikap dan perasaan, sikap
adalah keadaan internal individu yang mempengaruhi tindakannya
terhadap objek, orang, atau kejadian (Gagne, 1979). Sikap dapat
ditimbulkan, di samping seringkali muneul seeara alami, ialah (1)
dengan metode langsung seperti pengkondisian dan penguatan,
manakala ia sukses dalam kegiatan tertentu, maka ia akan bersikap ..
positif terhadap kegiatan itu. Dan (2) dengan metode tidak 'Iangsung •
seperti dengan melihat dan mempelajari sikap tokoh tertentu dalarn
buku baeaan, televisi, atau melihat langsung.
Metode kedua ini sangat penting dilaksanakan oleh pendidik,
sangat mudah, dan etika pendidik mewajibkan hal itu, yaitu dengan
membuat diri pendidik itu sendiri menjadi tokoh yang patut ditiru.
Konsep pendidikan mengatakan bahwa mendidik adalah dengan diri
pendidik itu sendiri, sangat berlaku dalam pengernbangan sikap inL•
Selain itu kenyataan menunjukkan bahwa para siswa pada umumnya
sangat pereaya kepada petunjuk dan nasihat pendidik di sekolah. Hat
ini berpengaruh terhadap identifikasi atau imitasi siswa terhadap
perilaku pendidiknya.
Sementara itu seeara tradisi perasaan itu bersurnber darikondisl
fisik, mental, dansebab-sebab dari luar diri manusia. Dan belakangan
ini dikatakan bahwa perasaan itu di sam ping bersumber dari keadaan
fisik, juga tersedianya label-label kognisi seperti marah, bahagia, dan
sebagainya. Sebab label-label ini bertalian dengan bagaimana kita
memandang situasi lingkungan dan bagaimana kita berperilaku yang
kemudian menampilkan perasaan kita. Dari sini tampak bahwa
maeam perasaan yang timbul juga banyak bergantung kepada
lingkungan.
Sikap dan perasaan yang keduanya banyak bertalian dengan
lingkungan, mempengaruhi konsep diriseseorang. Sikap dan perasaan
hormat terhadap guru akan menimbulkan konsep diri menyerupai
penampilan guru. Anak yang pandai matematika merasa dirinya
punya bakat metematika seperti gurunya, anak yang pandai melukis
merasa dirinya kelak seperti guru, lukis itu. Oleh sebab itu, pendidik
perlu memperhatikanproses pendldlkan agar dapat memuneulkan
konsep diri yang pdsitit,.,.\
Motivasi juga merupakan salah satu aspek psikologi sosial,
sebab tanpa motivasi tertentu sese orang sulit untuk berpartisipasi di
masyarakat. Sehubungan dengan ini, pendidik punya kewajiban untuk
menggali motivasi anak-anak agar muneul sehingga mereka dengan
senang hati belajar di sekolah. Menurut Klinger (Savage, 1991)
faktor-faktor yang menentukan motivasi adalah:
1. Minat dan kebutuhan individu. Bila minat dan kebutuhan
jasmaniarohani, dan sosial anak-anak dipenuhi, rnaka motivasi
belajamya akan muneul.
2. Persepsi kesulitan akan tugas-tugas. Bmi anak-anak memandang-
kesulitan pelajaran itu tidak terlalu berat, melainkan eukup
menantang, maka motivasi belajar mereka pun akan muncul.
Bertalian dengan ini pendidik perlu mengoreksi materi pelajaran
setiap kali akan mengajar agar kesulitan-kesulitannya tidak
menguras pikiran anak-anak.
3. Harapan sukses. Harapan ini pada umumnya muneul karena
anak itu sering sukses. Agar anak-anak bodoh puny a juga
kesempatan seperti ini, ada baiknya kalau materi pelajaran dibuat
bertingkat dan model evaluasi bersifat individual. Dengan eara
ini semua anak dalam kelas akan mernpunyai motivasi yang
positif untuk belajar. Metode seperti ini telah dilakukan di SD-
ID Vietoria Australia (Made Pidarta, 1996).
Masih ada sejumlah metode untuk membangkitkan motivasi
belajar anak-anak di sekolah. Robbins misalnya menyebutkan teori-
teori kebutuhan yang Berhierarki, teori X dan Y, teori Tiga Kebutuhan,
teori Dua Faktor, dan teori Harapan. Kelima teori ini dapat dilakukan
dalam pendidikan, tetapi yang paling mudab dilaksanakan adalah
teori Tiga Kebutuhan, yaitu kebutuhan berprestasi, kebutuhan
bersahabat, dan kebutuhan berkuasa. Mula-mula kebutuhan masing-
masing anak diperhatikan. Bagi yang butuh berkuasa lebih sering
diberi tugas memimpin, bagi yang butuh bersahabat lebih sering
disuruh belajar berkelompok, dan bagi yang butuh berprestasi bisa
direalisasi lewat kompetisi-kompetisi. Dengan cara ini motivasi anak-
anak untuk belajar di sekolah akan tetap stabil.
Selanjutnya mari kita bahas tentang keintiman nubungan.'
Altman dan Taylor (Freedman,' 1981) mengembangkan teori Re-.
intiman yang ia namakan penetrasi sosial, bahwa terjadi perilaku
antarpribadi yang diikuti oleh perasaan subjektif.• Penetrasi inl men- .
cakup sejumlah kehidupan pribadi dan kepribadian serta : bersifat
intim. Hubungan intim lni terjadi pada kasus-kasus tertentu seperti
saling mentraktir, tentang ide yang sarna, kecemasan yang sarna, dan
sebagainya.
Apakah keintiman hubungan ini ada kaitannyadengan
pendidikan? Dalam batas-batas tertentu proses pendidikan
membutuhkan suatu keintiman persahabatan. Dalarn proses belajar
bersama misalnya, tanpa disertai keintiman persahabatan di antara
mereka akan sulit menciptakan proses belajar yang kondusif. Begitu
pula dalam mengadakansuatu survei ke daerah-daerah membutuhkan .
keintiman. Dalarn pembimbingan terhadap . anak-anak yang lemah
baik oleh guru maupun oleh siswa yang pandai membutuhkan suatu
keintiman, juga dalam proses konseling butuh keakraban antara
konselor dengan kliennya. Dalam keluarga juga perlu ada hubungan , ;,
yang intim antara orang tua dengan anak-anak dan antara ariak-anak '
itu sendiri agar proses pendidikan bisa berjalan dengan baik.
Perilaku yang bertentangan dengan hubungan intim adalah
perilaku agresif. Yang dimaksud dengan agresif adalah perilaku yang
menyakiti orang lain atau yang dapat menyakiti orang lain. Ada tiga
katagori agresif yaitu: (Freedman, 1981).
1. Agresif anti sosial, misalnya perilaku yang suka menampar
orang, memaksakan kehendak. memaki-maki, dan sebagainya.:
2. Agresif pro sosial, misalnya perilaku memukul pencuri yang
sedang mencuri, menembak teroris, menyekap preman, dan
sebagainya.
3. Agresif sanksi, misalnya wanita menarnpar karena badannya
diraba laki-laki, tuan rumah menembak pencuri yang menjarah
rumahnya, wanita memaki-maki orang yang memfitnahnya, dan
sebagainya .:
Jadi perilaku agresif mana yang akan muncul pada seseorang
bergantung kepada watak seseorang dan situasi yang dihadapi.
Walaupun watak itu sulit diubah, narnun melalui pendidikan yang
kontinu, agresif itu dapat ditipiskan. Pendidikan perlu memperhatikan
agar agresif jenis pertarna tidak berkembang.
Ada tiga faktor utarna yang menyebabkan perilaku agresif.
Faktor-faktor yang dimaksud adalah:
1. Insting be rkel ahi. Orang yang merasa lapar, kehausan, bernafsu
seksual cenderung berperilaku agresif. Di sini insting berkelahi
merealisasi diri dalarn wujud agresif.
2. Gangguan atau serangan dari pihak lain membuat orang menjadi
marah at au agresif. Misalnya sedang asyik menonton film yang
bagus ada telepon berdering.
3. Putus asa atau tidak marnpu mencapai suatu tujuan cenderung
membuat orang agresif. Pemain bola yang harnpir memasukkan
bola tetapi gagal, akan memukul-mukulkan tangannya ke tanah.
Cara untuk mengurangi agresif antaralain (1) dengan katarsis yaitu
penyaluran ketegangan psikis ke arah aktivitas-aktivitas seperti
membuat boneka, ikut pertandingan, olah raga, dan sebagainya dan
(2) dengan belajar secara perlahan-lahan menyadarkan diri bahwa
agresif itu tidak baik. '
Selanjutnya akan dibahas tentang altruisme atau kasih sayang.
Perilaku ini berbentuk memberi pertolongan kepada orang lain tanpa
. mengharapkan balasan. Kasih sayang seperti ini lebih bersifat insting
daripada hasilbelajar baik di dalarn binatang inaupun di kalangan manusia Altruisme ini memang dimiliki oleh para orang tua pada
.umumnya, terutama ibu-ibu. Hal ini sangatpenting artinya da1atil
mendidik anak-anak di rumah. Para pendidik yang lain 'pUn di
lembaga-lembaga pendidikan diharap memiliki kasih sayang seperti
ini terhadap anak-anak. Mereka perlu belajar dan menanamkan kasih
sayang itu dalam dirinya untuk disebarkan dalam proses pendidikan.
Inilah yang disebut mengabdi kepada sang anak dalam pendidikan.
Kesepakatan atau kepatuhan adalah juga merupakan faktor
penting dalam proses pendidikan., Tanpa ada kesepakatan cuk~p sulit
rnerencanakan dan melaksanakan sesuatu, Iebih-lebih dalam bekerja
kelompok, Ada beberapa hal yang mempengaruhi terjadinya
kesepakatan, yaitu:
1. Penjelasan tentang pentingnya persatuan dan kesatuan.
2. Perasaan takut akan disisihkan oleh ternan-ternan.,
3. Keintiman anggota-anggota kelompok,
4. Besamya kelompok, ialah kelompok yang tidak terlalu besar.
5. Tingkat keahlian anggota kelompok, makin ahli dan makin
homogen makin mudah mendapat kesepakatan.
~. Kepercayaan diri' masing-masing anggota. Semakin tinggi
kepercayaan terhadap kemampuan mereka untuk mendapatkan
kesepakatan, semakin cepat pula kesempatan itu tercapai.
7. Keakraban dan perbauran anggota-anggota kelompok. Makin
mudah ,mereka berbaur, makin mudah pula mendapatkan
kesepakatan.
8. Komitmen masing-masing anggota ke1ompok terhadap
kewajiban-kewajibannya dalam kelompok. '
Dengan mengetahui faktor-faktor penyebab kesepakatan ini, s~harus- '
, ,
nya pendidik lebih mudah menciptakan kesepakatan baik dalam
kelompok siswa maupun dalam kelompok pendidik, dalam rangka
memajukan pendidikan anak-anak,
Kesepakatan orang tua dalam keluarga misalnya, akanrnem-
permudah pelaksanaan pendidikan terhadapanak-anaknya.. Karena apa yang direncanakan dan dilaksanakan oleh ibu dalam membina
anak disetujui oleh bapak dan anggota-anggota yang lain. Begitu pula
halnya dengan di lembaga-lembaga pendidikan seperud] sekolah
maupun di perguruan tinggi. Kesepakatan tentang .prinsip dan model
pendidikan yang akan dilaksanakan di .sekolah akan memperlancar
proses belajar itu sendiri. Jadi kesepakatan para personalia pendidikan
sangat mendukung kelancaran pendidikan itu. ,:~
Lebih Ianjut pendidikan tidak boleh mengesampingkan
kemungkinan adanya pengaruh .jenis kelamin terhadap perilaku
seseorang. Peranan Iaki-Iaki yang berbeda dengan perempuan
terutama didasari oleh perbedaan fisik dan tugas-tugas kodrati
mereka. Perempuan harus hamil, memelihara anak, menyusui, dan
membesarkannya. Sementara itu laki-lakiharus bertanggung jawab
terhadap kesejahteraan keluarga, walaupun belakangan ini perempuan
, juga ikut bertanggung jawab ternadap kesejahteraan itu. Peranan-
peranan seperti ini sudah dibina sejak awal dalam keluarga.
Penelitian menunjukkan laki-laki dan perempuan tidak berbeda
dalam kemampuan intelek secara umum. Mereka tidak berbeda dalam
inteligensi, kernampuan belajar, kreativitas, dan pemecahan masalah.
Teiiipi dalam bahasa perempuan lebih baik daripada laki-Iaki,
sebaliknya laki-laki lebih baik dalam kemampuan kuantitatif dan
rnang. Dalam berperilakusosial, secara kodrati tidak ada perbedaan
antara laki-laki dengan perempuan. Perbedaan perilaku sosial ini
terjadi karena proses perkembangan mereka berbeda. Anak laki-laki
cenderung menirn bapaknya dan anak perenipuan meniru ibunya.
Selanjutnya bapak mernbimbing anak laki-laki ke arab perilaku laki-
laki, sementara itu ibu membimbing anak perempuannya ke arah
perilaku perempuan. Sehingga terjadilah perbedaan perilaku sosial.
Anak laki-laki menjadi lebih kuat, agresif, dan berambisi, sedangkan
anak perempuan Iebih sensitif, perasa, dan sosial.
Menyadari akan perbedaan kemampuan dan sifat-sifat antara
anak laki dengan perempuan, pendidik dalam -membina anak-anak
hams dapat mengatur strategi dan metode belajar mengajar agar
sesuai dengan kemampuan dan sifat-sifat kedua jenis kelamin ini.
Pendidik tidak boleh memaksa anak laki-laki agar sepandai atau
melebihi kepandaian anak perempuan dalam pelajaran bahasa.
Sebaliknya jangan memaksa anak perempuan agar bisa mengalahkan
anak laki dalam bidangmatematika. Biarkanlah mereka berkembang
secara wajar. Pendidik tidak perlu terlalu marah kepada anak laki-
laki yang agresif atau kepada anak perempuan yang mudah
tersinggung sebab memang demikianlah sifat alamiah mereka.
Sekarang mari kita bicarakan tentang kepemimpinan. Hampir
semua kelompok memiliki pemimpin. Pemimpin yang disahkan lebih .
banyak mempunyai pengaruh dan kekuasaan daripada pe mim pin yang
muncul . begitu saja. Kemampuan berbicara memegang peranan
penting untuk bisa menjadi pemimpin. Di samping itu kepribadian
juga merupakan faktor penentu dalam menduduki jabatan pemimpin,
seperti kemampuan berbicara, kedudukan sosial, dan tidak banyak
menyimpang dari cita-cita kelompok.
Kepemimpinan juga dibutuhkan dalam pendidikan, baik di-
kalangan para pendidik, dikalangan anak-anak, maupun dalam proses
pendidikan itu sendiri. Serab tanpa kepemimpinan yang baik, segala .
kegiatan pendidikan tidak mungkin dapat dilaksanakan dengan lancar.
Dalam proses belajar mengajar misalnya, guru adalah seorang
pemimpin kelas dan beberapa anak juga menjadi pemimpin kelompok
belajamya masing-masing. Dapat dipahami bahwa baik buruknya
proses belajar, banyak ditentukan oleh kualitas pemimpinnya.Di sini
juga terkandung makna bahwa tugas guru untuk membina anak-anak
agar menjadi pemirnpin-pemimpin yang baik.
Sesudah mempelajari konsep-konsep penting tentang psikologi
sosial, ada baiknya kita sarikan dulu, sebelum dilanjutkan dengan
topik lain.
1. Pembentukan kesan pertama ditentukan oleh:
a. Kepribadian orang yang diamati.
b. Perilaku orang tersebut.
c. Latar belakang situasi waktu mengamati.
' Persepsi diri sendiri bersumber dari perilaku kita yalg overt
dan persepsi kita terhadap lingkungan, serta banyak dipengaruhi
oleh sikap dan pcrasaan.
3. Sikap muncul bisa secara alami dan dapat juga dengan peng-
kondisian serta dengan mempelajan sikap para tokoh.
4. Motivasi ditentukan oleh faktor-faktor:
a. Minat dan kebutuhan individu.
b. Persepsi terhadap tugas yang menantang.
c. Harapan sukses.
5. Keintiman hubungan yang disebut penetrasi sosial akan terjadi
manakala perilaku antarpribadi diikuti oleh perasaan subjektif.
6. Perilaku agresif disebabkan oleh:
a. Insting berkelahi.
b. Gangguan dari pihak lain.
c. Putus ' asa.
]enis-jenis perilaku agresif adalah:
a. Agresif anti sosial, seperti memaki-maki.
b. Agresif prososial, seperti menembak teroris.
c. Agresif sanksi, seperti menampar orang yang melecehkan-
nya.
7. Altruisme adalah hasil kasih sayang yang Hdak mengharapkan
balasan.
8. Kesepakatan atau kepatuhan memudahkan proses pembinaan
dalam suatu kelompok.
~
9. Ada sejurnlah perbedaan kemampuan dan sifat antara anak laki
dengan anak perempuan. Perbedaan ini di samping bersifat
alami, juga karena pengalaman dan pendidikan.
10. Peranan pemimpin cukup menentukan keberhasilan tugas-tugas ,_
kelompok.
Kesiapan Belajar dan Aspek-Aspek Individu
Kesiapan belajar secara umum adalah kemampuan sese orang
untuk mendapatkan keuntungan daripengalaman yarrg"'la temukan.
, .
Sementara itu kesiapan kognisi bertalian dengan pengetahuan, pikiran,
dan kualitas berpikir seseorang dalam menghadapi situasi belajar
yang barn. Kemampuan-kemampuan ini bergantung kepada tingkat
kematangan intelektual, latar belakang pengalaman, dan cara-cara
pengetahuan sebelumnyasdistruktur (Connell, 1974).
Contoh kematangan intelektual antara lanr adalahtingkat-
tingkat perkemoangan kognisi Piaget yang, telah diuraikan pada
bagian psikologi perkembangan; Berkaitan dengan latarbelakang
pengalaman tersebut di atas, Ausubel mengatakan faktor yang, paling
penting mempengaruhi belajar adalah: apa yang sudah diketahui oleh
anak-anak, Sedangkan perihal menstruktur kognisi dalam banyak
kasus para siswa dapat menstruktur kembali pengetahuannya untuk
penyesuaian dengan materi-materi barn yang diterima dari pendidik.
Akan tetapi pada kasus-kasus yang lain, struktur kognisi itu dipegang
erat-erat sehingga membuat pendidik mencari pendekatan lain .agar
anak-anak dapat menangkap materi pelajaran barn itu.
"
Bagaimana dengankesiapan afeksi? Connell (1974) menulis
bahwa sejumlah hasil penelitian mengatakan motivasi atau kesiapan
afeksi belajar di kelas bergantung kepada kekuatan motif atau
kebutuhan berprestasi, orientasi motivasi itu sendiri, dan faktor-faktor
situasional yang mungkin dapat membangunkan motivasi.iCiri-ciri
motivasi yang mendorong untuk berprestasi adalah mengejar
kompetensi, usaha mengaktualisasi diri, dan usaha berprestasi. Hal
ini dikenal dengan istilah kebutuhan untuk berprestasi, salah satu ,';
kebutuhan dalam teori motivasi McClelland.
<,
Pendekatan yang lain yang dapat dilakukan dalam
mengernbangkan potensi motivasi adalah dengan program intervensi
selama anak duduk di TK dan kelas-kelas awal di SD. Intervensi
ini bisa dalam bentuk:
1. Memperbanyak ragam fasilitas di TK.
2. Memberi kesempatan kepada orang tua untuk menyaksikan
interaksi yang efektif di TK dan SD. Pola interaksi ini adalah:
a. Memberi kesempatan untuk.mengembangkan keterampilan,
b. Membuat kegiatan-kegiatan berprestasi berhasil.
c. Menciptakan tujuan-tujuan yang menantang, tidak terlalu
gampang atau terlalu sukar.
d. Memberi keyakinan untuksukses serta menghargai ke-
-mampuan-kemampuannya.
e. Membuat setiap anak tertarik dan gemar belajar;
Kesaksian orang tua ini bisa menambah semangat anak-
anak belajar menyelesaikan tugas-tugas mereka.
Bagi pendidik di sekolah, baik intervensi pada umur-umur muda
maupun melayani motivasi berprestasi pada anak-anak yang lebih tua
perlu dilakukan pada setiap saat. Sebab motivasi ini merupakan
modal pertama bagi anak-anak untukgemar belajar.
Di sam ping metode tersebut di atas, masih ada cara untuk
membangunkan motivasi. Cara-cara yang dimaksud adalah:
1. Memberi kepuasan terhadap kebutuhan-kebutuhan yang dituntut,
a. Kebutuhan fisiko
b. Kebutuhan diterima oleh kelompok.
c. Kebutuhan mengembangkan konsep diri.
2. ' Memberikan tugas-tugas .yang menantang..
3.' Mengembangkan kesadaran kontrol dari dalam. Anak-anak yang
mempunyai keyakinan kuat bahwa ia dapat mengontrol diri
sendiri tampak lebih gigih berusaha, mengambil langkah-
langkah untuk memperbaiki lingkungan, menghargai penguatan
prestasi baik dalam kesuksesan maupun dalam kegagalan, dan
menolak upaya-upaya orang untuk mempengaruhi dirinya.
Sesudah mendapatkan informasi tentang kesiapan belajar, baik
kesiapan kognisi maupun kesiapan afeksi atau motivasi, kini tiba
gilirarmya untuk membahas aspek-aspek individu. Mengapa hal ini
perlu dilakukan, mengingat yang belajar atau yang dikenai pendidikan
adalah individu itu sendiri.
Dalam proses pendidikan peserta didik atau warga belajarlah
yang harus memegang peranan utama. Sebab mereka adalah .individu
yang hidup dan mampu berkembang sendiri. Pendidikan harus' .
memperlakukan dan melayaniperkembangan mereka secara wajar.
Ibarat proses mekamya bunga, pendidik tidak boleh memaksa ke-
lopak-kelopak bunga agar segera mekar, melainkan harus menunggu
dengan sabar sambil rajin memberi pupuk, menyirami, dan me-
mindahkan dari atau menutupi dari sengatan sinar matahari yang
terik. Biarkanlah mereka berkembang secara wajar, sesuai dengan
kodratnya.
Karena peserta didik atau warga belajar sebagai individu, maka
. ada pula orang menyebutnya sebagai subjek didik. Di sini terkandung
makna bahwa mereka, merupakan subjek yang mempunyai pendirian
sendiri, aspirasi sendiri, kemampuan sendiri, dan sebagainya. Mereka
mampu melakukan kegiatan sendiriuntuk mengembangkan dirinya
masing-masing dengan menggunakan perlengkapan-perlengkapan
YCU1g mereka miliki. Dengan demikian tidak dapat dibenarkan bila
pendidik memandang mereka sebagai objekyangdapat diperlakukan
semaunya oleh para pendidik.
. Perlengkap peserta didik atau warga belajar sebagai subjek
dalam garis besarnya, dapat dibagi menjadi lima kelompok, yaitu:
1. Watak, ialah sifat-sifat yang dibawa sejak lahir yang hampir
tidak dapat diubah, misalnya watak pemarah, pendiam,
menyendiri, suka berbicara, cinta kasih, dan sebagainya.
2. Kemampuan umum atau IQ, ialah kecerdasan yang bersifat
umum. Kemampuan ini dapat dijadikan rainalan tentang
keberhasilan seseorarig menyelesaikan suatu pekerjaan atau
tingkat pendidikan yang dijalani.
3. Kemampuan khusus ataubakat, ialah kemampuan tertentu yang
dibawa sejak lahir. Kemampuan ini pada umumnya memberi
, arab kepada cita-cita seseorang terutarna bila bakatnya terlayani
dalam pendidikan.
4. Kepribadian, ialah penarnpilan seseorang secara umum, seperti
sikap, besarnya motivasi, kuatnya kemauan, tabahnya
menghadapi rintangan, penghargaannya terhadap orang lain,
kesopanannya, toleransinya, dan sebagainya. Kepribadian
bersumber dari watak, kemampuan umum dan khusus, pengaruh
Iingkungan, dan proses bel ajar, serta pengaruh latar belakang
kehidupan.
5. Latar belakang, ialah lingkungan tempat dibesarkan terutama
lingkungan keluarga. Lingkungan ini sangat besar pengaruhnya
terhadap perkembangan jiwa bayi dan kanak-kanak,
Sesudah mengetahui kelima perlengkapan subjek didik, maka
dapat dibayangkan betapa banyaknya macam subjek yang harus
dihadapi oleh pendidik. Perlu diketahui bahwa hampir tidak ada
manusia yang mempunyai watak yang sarna, begitu pula dengan
kemampuan umum dan khusus tidak ada yang persis sama, beberapa
di antara mereka ada yang dibina dalam pendidikan khusus adalah
karena ada kesamaan .saja. Begitu pula halnya dengan kepribadian
dan latar belakang juga tidak ada yang persissama antara manusia
yang satu dengan yang lain. Dengan demikian sekali lagi dapat
dinyatakan bahwa pendidikan akan menghadapi banyak sekali ragam
subjek, yang hampir dapat dikatakan bahwa tidak ada yang persis
sarna satu dengan yang lain. Itulah sebabnya dalarn pendidikan sering
disebut bahwa subjek didik adalah unik.
Walaupun setiap individu dikatakan unik, namunaspek-aspek
individu mereka adalah sama, sebab aspek-aspek ini dikembangkan
sendiri oleh para ahli. Pendapat mereka tentang struktur jiwa manusia
pada umumnya ada kesamaan &atl! g~ngFUl yaftg lain. Mereka
mernbagi jiwa itu menjadi tiga fungsi yaltu afeksi, kognisi, dan
psikokomotor. Namun ada juga yang membagi afeksi menjadi dua
yaitu perasaan dan kemauan, sehingga terdapat empat fungsi jiwa
yaitu perasaan, kemauan, piki ran , dan keterampilan.
Dalam kaitannya dengan togas pendidikan terhadap us aha
membina peserta didik, terutama diIndonesia yang menginginkan
perkembangan total ada baiknya perlu mempertimbangkan segi
jasmani yang juga dikembangkan atau ditumbuhkan. Dengan
demikian fungsi jiwa dan tubuh atau aspek-aspek individu yang 'akan ,
dikembangkan adalah sebagai berikut: . '
1. Rohani:
a. Umum:
1)agama
2) perasaan
4) kemauan
5) pikiran
b. Sosial:
1)',kemasyarakatan
2) cinta tanah air
2. Jasmani:
a. Keterampilan.
b. K.esehatan.
c. Keindahan tubuh.
Dari kesembilan aspek individu tersebut di atas, ada beberapa
yang perlu diberi penjelasan. Antara lain adalah aspek keagamaan.
Dalam kepustakaan, terutama kepustakaan barat, , aspek ini jarang
ditemukan dalam pembahasan tentang pendidikan di sekolah atau di
perguruan tinggi. Hal ini sangat mungkin disebabkan oleh sifat
pendidikan barat '~tu sendiri yang kebanyakan bersifat sekuler. Mereka
tidak mau memasukkan aspek agama dalam proses belajar mengajar
di lembaga-lembaga pendidikan. Mereka memandang agama adalah '
urusan pribadi masing-masing, jadi tidak perlu dtcampurkandengan
prosesbelajar di lembaga pendidikan. Sebaliknya, di Indonesia aspek
agama adalah merupakan hat yang sangat penting sehingga harus
ditangani oleh -lembaga . pendidikan 'agar lebih efektif. Selanjutnya
mengapa aspek agama dibuattersendiri, hal ini disebabkan aspek
itu berkaitan dengan perilaku individu bertalian dengan wahyu yang
di turunkan Tuhan Yang Maha Esa, yang pada aspek-aspek lain tidak
ditemukan.
Aspek lain yang perlu juga dijelaskan adalah aspek kemasya-
'rakatan dan cinta tanah air. Kedua aspek memiliki kesamaan, yaitu
sarna-sama merupakan sikap sosial. Bedanya ialah kemasyarakatan
hanya mencakup masyarakat yang relatif dekat dengan individu
bersangkutan yaitu tempatia mengadakan komunikasi, sedangkan
cinta tanah air bersifat luas, yaitu mencakup seluruh wilayah Indo-
nesia. Kedua aspek ini dipandang perlu dikembangkan mengingat
seringnya terjadi kerusuhan-kernsuhan baik dalam negeri sendiri
maupun di luar negeri yang bersumber dari lemahnya sikap sosial
dan kuatnya indivldualisme.
Kesembilan aspek tersebut di atas semula merupakan potensi-
potensi bel aka. Sejalan dengan perkembangan umur anak, potensi-
potensi itu semakin berwujud. Wujud-wujud itu tidak selalu sarna
dalam diri setiap individu maupun antarindividu. Dengan bantuan
pendidikan diharapkan aspek-aspek pada individu itu dapat
berkembang dan berbentuk sebagaimana: mestinya secara wajar.
Menumt konsep pendidikan di Indonesia, individu manusia
harus berkembang secara total membentuk manusia berkembang
seutuhnya serta diwarnai oleh sila-sila Pancasila Yang disebut
berkembang total' atau seutuhnya ialah perkembangan individu yang
inemenuhi ketiga kriteria berikut:
I. Semua potensi berkembang secara proporsional atau berimbang
atau harmonis, Artinya pelayanan tefhadap potensi-potensi itu
tidak pilih kasih dan disesuaikan dengan tingkat potensinya
masing-masing. Bila tingkat potensi cinta tanah air 10 misalnya,
dan tingkat potensi pikiran 5, maka pelayanan terhadap kedua
potensi itu adalah 10 berbanding 5. Demikian pula dengan
tingkat-tingkat potensi lainnya.
2. Berkembang secara optimal, artinya potensi-potensi yang
dikembangkan diusahakan setinggi mungkin sesuai dengan
kemarnpuan daya dukung pendidikan, seperti sarana,media,
metode, lingkungan belajar,dan sebagainya,
3. Berkembang seeara integratif, ialah perkembangan semua potensr
atau aspek itu saling.berkaitan satu dengan yang lain dan slaling
menunjang menuju suatu kesatuan yang bulat. Arah dan wujud perkembangan itu adalah sejalan dengan filsafat Pancasila.
Dampak Konsep Pendidikan
Tinjauan tentang psikologi perkembangan, psikologi belajar,
psikologi sosial, dan kesiapan belajar serta aspek-aspek individu,
memberikan darnpak kepada konsep pendidikan. Dampak itu sebagian
besar dalam bidang kurikulum sebab materi pelajaran dan proses
belajar mengajar itu hams sejalan dengan perkembangan, eara belajar,
eara mereka mengadakan kontak sosial, dan kesiapan merekabelajar .. '
Darnpaknya kepada konsep pendidikan adalah sebagai berikut. .
1. Psikologi perkembanganyang bersifat umum, yang berorientasi pada afeksi, dan pada kognisi, semuanya memberi petunjuk kepada pendidik bagaimana seharusnya ia menyiapkan dan mengorganisasi materi pendidikan serta bagaimana membina anak-anak agar mereka mau belajar dengan sukarela.
2. Psikologi belajar
a. Yang klasik
1) Disiplin Mental bermanfaat untuk menghafal perkalian dan melatih soal-soal.
2) Naturalis/Aktualisasi Diri bermanfaat untuk pendidikan seumur hidup.
b. Behavioris bermanfaat atau eoeok untuk .membentuk perilaku nyata, seperti mau menyumbang, giat bekeIja, gemar menyanyi, dan sebagainya.
c. Kognisi eoeok untuk mempelajari materi-materi pelajaran yang lebih rumit yang membutuhkan pemahaman, untuk
mell1ecahkan masalah dan, untuk berkreasi meneiptakan sesuatu bentuk atau ide barn.
3. Psikologi sosial:
a. Persepsi diri atau konsep ten tang diri sendiri temyata bersumber dari perilaku yag overt dan persepsi kita terhadaplingkungan, dan banyak dipengaruhi oleh sikap serta perasaan kita, Agarpara siswa memiliki konsep diri yang riil, maka pendidik perlu mengembangkan perilaku yang overt, persepsi terhadap lingkungan seeara wajar, dan sikap serta perasaan yang positif. Konsep diri yang keliru, dapat merusak perkembangan anak.
b. Pembentukan sikap bisa secara alami, dikondisi, dan meniru sikap para tokoh. Pendidik perlu membentuk sikap anak yang positif dalam banyak hal. Oleh sebab itu, cara pembentukan sikap ini perlu direncanakan dan dilaksanakan pada waktu dan situasi yang tepat.
c. Sarna halnya dengan sikap, motivasi anak-anak juga perlu
dikembangkan pada saat yang memungkinkan melalui,
1) Pemenuhan minat dan kebutuhannya.
2) Tugas-tugas yang inenantang.
3) Menanarnkan harapan . yang sukses dengan cara
seringkali memberikan pengalaman sukses.
d. Hubungan yang intim diperlukan dalarn proses konseling. pembimbingan, dan belajar dalam kelompok. Karena itu hubungan seperti ini perlu dikembangkan oleh para pendidik.
Pendidik perlu membendung perilaku agresif anti sosial, tetapi mengembangkan agresif prososial dan sanksi, Pengurangan agresifanti sosial dapatdilakukan dengan rnenanamkan ketertiban, tidak mengganggu satu sarna lain, dan berupaya agar anak-anak tidak mengalarni rasa putus asa. Pendidik juga perlu mengembangkan kemarnpuan memimpin dikalangan anak-anak, Sebab kepemimpinan sangat
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
alah cukup ko... bantuknyo masih kurang ma... sebab kepemimpinan sanga...... mano sambungannyo
BalasHapusI am Cherzio...
BalasHapusnan paralu modul sistem rem, iko ha link download-nyo...
http://www.ziddu.com/download/7347801/REM.rar.html
utntuak nan paralu tugas PPD ko nyoa..
tapi iko tugas makalah wak, ambiaklah kalo paralu
http://www.ziddu.com/download/7347801/REM.rar.html
tugas PP yang hard copy-an dari pak wakhid...
http://www.ziddu.com/download/7348022/TugasPengantarPendidikan.rar.html
DIRALAT !!
BalasHapusuntuak tugas makalah PPD....
iko link nan batua nyo
http://www.ziddu.com/download/7347540/MakalahPerkembanganPesertaDidik.rar.html
Sorry... bro...